Home / Nasehat / Adab Bercanda Dalam Islam (Bagian 2)

Adab Bercanda Dalam Islam (Bagian 2)

Seringkali,  ada sebagian orang yang suka bercanda bersama sahabatnya dengan cara menakut-nakuti, seperti menggunakan topeng yang menakutkan, berteriak dalam kegelapan atau menyembunyikan barang milik temannya. Bercanda seperti itu, menurut Syekh as-Sayyid Nada, dilarang agama.

Rasulullah SAW bersabda, ”Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya baik bercanda maupun bersungguh-sungguh.” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi). Dalam hadis lainnya, Nabi SAW bersabda, ”Tidak halal bagi seorang Muslim membuat takut Muslim yang lain.” (HR Abu Dawud).

Selain tak boleh menakuti dan menyembunyikan barang orang lain ketika bercanda, Rasulullah SAW pun mengajarkan kepada umatnya untuk tak berbohong.  Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya aku juga bercanda, namun aku tak mengatakan kecuali yang benar.” (HR ath-Thabrani).

Syekh as-Sayyid Nada  menekankan bahwa dalam bercanda itu diharamkan pula melecehkan sekelompok orang tertentu, penduduk daerah tertentu atau orang dengan profesi tertentu dan menyebut aib mereka dengan tujuan bercanda dan membuat orang tertawa.

Keenam, menjauhi bercanda dengan tangan dan kata-kata yang buruk. Menurut Syekh as-Sayyid Nada,  sebagian besar manusia tak menyukai bercanda dengan tangan dan kata-kata kotor.  Akibat bercanda dengan cara itu, tak sedikit gurauan dengan seorang sahabat bisa berujung permusuhan dan pertengkaran.Tak sepatutnya seorang Muslim bercanda dengan tangan kecuali dengan orang yang terbiasa melakukan itu dan bisa menerimanya. ”Sebagaimana para sahabat Nabi SAW mereka saling melempar kulit buah semangka setelah memakannya,” tuturnya mengutip hadis yang diriwayatkan al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad.

Ketujuh, tak banyak tertawa. Kebanyakan orang terlalu berlebihan dalam tertawa sehingga terpingkal-pingkal ketika bercanda. Hal itu, bertentangan dengan sunah Nabi SAW yang meminta umatnya agar tak tertawa secara berlebihan.  Nabi SAW bersabda, ”Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR at-Tirmidzi).

Kedelapan,  bercanda dengan orang-orang yang membutuhkannya. Rasulullah sering bercanda dengan anak-anak. Ada beberapa hadis yang mengisahkan cara Nabi SAW bercanda. Salah satunya: Dari Anas RA, datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW dan berkata, ”Wahai Rasulullah, bawalah aku? Nabi kemudian bersabda, ”Kami akan membawamu di atas anak unta.”

Laki-laki itu berkata, ”Apa yang bisa aku lakukan dengan anak unta?” Rasulullah SAW pun bersabda, ”Bukankah unta dewasa pun anak unta?” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).  Begitulah Islam mengatur adab bercanda. Sehingga, senda gurau yang dilakukan  seorang Muslim dengan sahabatnya dapat menyegarkan jiwa dan semangat.

Sumber: Khazanah, Republika; 6 April 2018

About pengendali

Check Also

La Ma’daremmeng, Karaeng Pattingalloang, dan Tuanta Salamaka Syaikh Yusuf Al Makassari [1]

La Ma’daremmeng, Karaeng Pattingalloang, dan Tuanta Salamaka Syaikh Yusuf Al Makassari [1] Raja Bone XIII …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *