Home / Kajian / Emansipasi Membawa Kartini Menemukan Kedamaian dalam Islam (Bagian 2)

Emansipasi Membawa Kartini Menemukan Kedamaian dalam Islam (Bagian 2)

Emansipasi Membawa Kartini Menemukan Kedamaian dalam Islam (Bagian 2)

Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.

Dalam buku karangan Rahayu Amatulah yang berjudul Kartini dan Muslimah dalam Rahim Sejarah, menuliskan Kartini memiliki jiwa spiritualitas yang tinggi. Batinnya yang haus tidak semuanya terpenuhi mengingat kebijakan penjajah pada masa itu yang melarang Alquran diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Sehingga tidak heran jika banyak orang umat Islam yang tidak mengerti agamanya dengan baik.

Namun, hal itu tidak membuat Kartini menyerah dan meninggalkan keimanannya begitu saja. Tingginya nilai spiritualitas dan keimanan yang ia miliki terhadap Islam membuat ia terus mencari apa yang menjadi pergumulannya mengenai Islam. Sampai suatu ketika ia bersua dengan seorang ulama bernama Kiai Sholeh Darat pada sebuah pengajian di rumah pamannya yang seorang Bupati Demak, Pangeran Ario Hadiningrat. Dalam pengajian tersebut, Kiai Sholeh Darat mengkaji tafsir Alquran surah Alfatihah yang disampaikan dalam bahasa Jawa.

Usai pengajian itu, Kartini memaksa pamannya untuk menemaninya menemui Kiai Sholeh Darat. Sang Paman pun menuruti keinginan kemenakannya. Dalam pertemuan itu, Kartini meminta kepada Kiai Sholeh untuk menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Jawa.

Selepas pertemuan tersebut, Kiai Sholeh Darat menyusun Kitab Tafsir Faid Al Rahman yang ditulis dalam bahasa Jawa menggunakan tulisan huruf Arab Pegon. Teks-teks itulah yang kemudian dipelajari Kartini.  Seketika paradigma Kartini terhadap Islam berubah. Apa yang menjadi kegalauannya terjawab. Hal itu dapat dilihat dari surat yang ia tulis kepada sahabat penanya Ny Van Kol pada 21 Juli 1902.

Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.

Lalu pada 1 Agustus 1903, ia juga menulis surat kepada Ny Abendanon; Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu hamba Allah.

Karena itu, keimanan Kartini yang cukup besar terhadap Islam membuat ia menerapkan yang tertulis di dalam Alquran surah al-Mujadalah ayat 11 bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan yang diberi ilmu pengetahuan berupa derajat.

Sumber: Kolom, Republika; 21 April 2017

 

About Kukuh

Check Also

Hikmah Berkuda, dari Obat Autis sampai Strok

Hikmah Berkuda, dari Obat Autis sampai Strok Allah SWT menegaskan dalam Alquran Surat Al-Anfal (8) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *