Home / Khazanah / Emansipasi Membawa Kartini Menemukan Kedamaian dalam Islam (Bagian 1)

Emansipasi Membawa Kartini Menemukan Kedamaian dalam Islam (Bagian 1)

 

Emansipasi Membawa Kartini Menemukan Kedamaian dalam Islam (Bagian 1)

Raden Ayu Kartini, namanya abadi untuk mereprentasikan emansipasi. Cucu bupati Demak, Pangeran Ario Tjondronegoro, itu mewariskan pemikiran jika orang Indonesia tidak boleh terbelenggu oleh kebodohan, meski saat itu Belanda sedang menjajah Nusantara. Pangeran Ario Tjondronegoro mendidik anak-anaknya dengan pelajaran Barat. Begitu juga dengan ayah Kartini, RM Adipati Ario Sosroningrat yang memiliki pemikiran progresif. Bupati Jepara itu mencari jalan agar masyarakat Jawa dapat mengubah keadaan mereka menjadi lebih baik.

Kepedulian keturunan Tjondronegoro terhadap pendidikan diperkuat dengan banyaknya sepupu Kartini yang mengenyam pendidikan hingga setingkat Hogere Burgerschool (HBS) atau setara dengan Sekolah Menegah Atas (SMA). Bahkan saudaranya ada yang menimba ilmu sampai ke negeri Belanda.

Semangat dan cita-cita Kartini untuk memperjuangkan hak perempuan untuk mengenyam tergambar dalam kumpulan surat-suratnya. Surat-surat itu dikumpulkan dalam sebuah buku berjudul Door Duisternis Tot Lieht atau Dari Kegelapan Menuju Cahaya (Habis Gelap Terbitlah Terang). Meski dikenal sebagai tokoh gerakan emansipasi perempuan, namun tidak banyak yang tahu bagaimana seorang Kartini menjalankan ritual agama yang dipeluknya, Islam. Maka tidak heran jika keislaman Kartini dipertanyakan.

R.A. Kartini, lahir pada 28 Rabiulakhir tahun Jawa 1808 (21 April 1879) di Mayong, salah satu Kabupaten di Jepara, Jawa Tengah. Di kota itu juga ia disekolahkan ayahnya. Keluarganya begitu mengagumi kemajuan Eropa, sehingga anak-anaknya baik laki-laki dan perempuan ia didik dengan pelajaran Barat.

Kartini sempat mempertanyakan Islam dalam suratnya kepada Stella Zihandellar pada 6 November 1899;

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

Alquran terlalu suci untuk diterjemah dalam bahasa apapun. Tidak ada yang mengerti bahasa Arab di sini. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca.

Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.

Aku pikir, tidak jadi orang saleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

Dari kutipan surat tersebut, terlihat kegundahan Kartini terhadap Alquran, kitab suci umat Islam yang tidak ia mengerti. Salah satu alasannya karena tulisannya berbeda dengan bahasa Belanda yang memakai tulisan latin. Bahkan Kartini pernah dalam suratnya 15 Agustus 1902, secara tegas Kartini enggan membaca lagi Alquran.

Sumber: Kolom, Republika; 21 April 2017

About Kukuh

Check Also

Hikmah Berkuda, dari Obat Autis sampai Strok

Hikmah Berkuda, dari Obat Autis sampai Strok Allah SWT menegaskan dalam Alquran Surat Al-Anfal (8) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *