Home / Kajian / Puasa itu Menyeimbangkan Jiwa

Puasa itu Menyeimbangkan Jiwa

Puasa itu Menyeimbangkan Jiwa

Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Prof. Rokhmin Dahuri menyampaikan tausiyah Ramadhan mengenai kebahagian hidup dalam konsep Islam. Menurut Guru Besar IPB ini kebahagian hidup seringkali disalahartikan dengan segala kelimpahan materi. Pandangan ini membuat orang berjuang sekuat tenaga, mengabaikan sisi rohani demi terpenuhinya kebutuhan materi  bahkan diatas kebutuhan dasar, tahta dan jabatan tinggi serta popularitas yang tersohor.

Rokhmin yang juga dikenal sebagai Pakar Kelautan ini menjelaskan dalam islam, konsep sukses dan ukuran kebahagiaan jelas tidak berpatokan pada banyaknya materi. Apalagi berpatokan pada terpenuhinya kebutuhan hidup diatas kebutuhan rata-rata, bergelimang harta disana-sani, tahta ataupun popularitas karena itu tidak menjadi jaminan kita untuk bahagia.

Prof Rokhmin menegaskan bahwa dalam Islam konsep kebahagiaan dan kesuksesan hidup diukur dari keberkahan dan kemanfaatan hidup kita sendiri. Itu yang akan membuat kita tenang dan bahagia dalam hidup dan hal tersebut dapat kita capai dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Keimanan dan ketakwaan menurut Prof Rokhmin yang akan menuntun manusia menuju kebahagiaan sejati. Tidak menjadikan materi sebagai tujuan utama sehingga menghalalkan segala cara. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pun, prasyarat utama menjadi maju, adil-makmur, damai, berdaulat, dan penuh limpahan rahmat Allah adalah penduduknya harus beriman dan bertakwa. Sebagaimana firman Allah dalam Aquran surah al-Araf ayat 96.

“Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pasti Allah akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Allah), maka Allah siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”

Menurut jumhur ulama, berkah itu berupa segala macam nikmat atau karunia dari Allah. Seperti, rakyat yang sehat, cerdas, pekerja keras, beretos kerja unggul, dan berakhlak mulia. Pemimpin yang capable, berintegritas, amanah, hidup sederhana, dan melayani rakyat.

Lalu apa hubungannya antara iman dan takwa dengan keberhasilan hidup manusia? Jawabannya terletak pada definisi dan pengertian takwa itu sendiri. Allah melalui Alquran dan hadis mengajarkan bahwa takwa adalah melaksanakan setiap perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Selain itu, orang yang takwa di dalam hidupnya akan senantiasa berupaya maksimal sesuai kapasitas dan otoritas yang dimilikinya untuk menciptakan iklim kehidupan kondusif bagi manusia untuk beramal saleh ketimbang melakukan kemaksiatan dan dosa.

Perkuat Ibadah

Guru besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah, Prof Abdul Mujib mengungkap, dari perspektif psikologi, amalan di bulan suci ternyata dapat menyeimbangkan jiwa. Menurutnya, batin setiap manusia memerlukan keseimbangan supaya bisa merasakan kebahagiaan.

Salah satu contoh ibadah dalam hal ini adalah zakat fitrah. Sebuah hadis menyatakan bahwa pahala puasa Ramadhan seseorang tergantung di antara langit dan bumi atau tidak terangkat kepada Allah kecuali bila orang itu menunaikan zakat fitrah. Artinya, menurut Abdul Mujib, rukun Islam ketiga merupakan penghantar diterimanya amalan shaum.

Secara psikologi, Abdul Mujib menjelaskan, aspek keseimbangan ini berperan sangat penting. Kondisi kejiwaan yang terlampau tinggi, semisal sombong atau rasa angkuh, hasilnya tidak bagus, terutama dalam konteks hubungan sosial. Adapun kondisi psikologis yang terlalu rendah dapat membahayakan individu, seperti pada kasus-kasus depresi.

Selain persoalan keseimbangan, sambung Abdul Mujib, berpuasa di bulan Ramadhan juga dapat meredakan hawa nafsu dalam jiwa. Menurutnya, dalam diri setiap manusia terdapat dua nafsu kebinatangan, yakni yang buas dan jinak.

Nafsu yang buas itu bersifat mengancam kesehatan jiwa, semisal marah. Adapun Islam mengajarkan seorang Muslim agar menahan amarahnya ketika sedang shaum Ramadhan. Kemudian, nafsu yang diibaratkan hewan jinak cenderung mengajak manusia pada perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah. Jenis yang demikian juga juga harus dikendalikan selama berpuasa.

Selama menunaikan ibadah shaum, jelas Abdul Mujib, energi nafsu syahwat dalam diri manusia diubah menjadi potensi dan motivasi untuk berbuat baik. Ibadah ini juga dapat menghilangkan hal-hal yang patologis dalam diri manusia. Abdul Mujib mengungkapkan, salah satu sumber penyakit pada jiwa adalah rasa berdosa (gulty feeling). Sasarannya bisa pada diri sendiri atau orang lain. Dengan melakukan shaum secara benar, sesuai tuntunan Rasulullah SAW, seorang Muslim dapat dijauhkan dari perasaan bersalah dan terbuka jiwanya menuju ampunan Allah.

Sumber: Republika, Khazanah 23 Mei 2018

About Kukuh

Check Also

Adab Dan Iman

Adab Dan Iman Ketika kalimat adab disebut, yang terlintas dalam kebanyakan benak kita adalah kesopanan, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *