Home / Kajian / Doa Abdullah bin Jahsy di Perang Uhud

Doa Abdullah bin Jahsy di Perang Uhud

Doa Abdullah bin Jahsy di Perang Uhud

Semasa hidupnya, Abdullah bin Jahsy setiap harinya berusaha menghabiskan waktu bersama Nabi Muhammad SAW dan para sahabat agar bisa belajar banyak dari Rasulullah. Abdullah bin Jahsy sudah mengagumi sosok Muhammad SAW sebelum masa kenabian.

Lahir dan besar di permukiman sekitar Ka’bah, Makkah, dia masih berkerabat dengan Nabi Muhammad. Saudara perempuannya, Zainab binti Jahsy, kelak merupakan istri Nabi. Adapun ibunya, yakni Aminah binti Abdul Muththalib, merupakan saudara kandung kakek Nabi. Tapi, kekaguman Abdullah bin Jahsy lantaran agungnya akhlak Muhammad sejak masa belia. Oleh penduduk Makkah, Muhammad diberi gelar al-Amin.

Ketokohan Muhammad muda semakin mencuat setelah peristiwa Hajar al-Aswad. Kala itu, para pemimpin kabilah Mak kah berebut mendapatkan kehormatan meletakkan kembali batu mulia tersebut ke Ka’bah.

Hal ini setelah pembenahan atas kompleks Baitullah tersebut hampir selesai sebagai penanggulangan bencana banjir yang sempat melanda. Masing-masing pemuka kabilah bersikeras bahwa mereka yang paling mulia di antara yang lain. Hampir saja, saling klaim ini berujung pada perang bila tidak ada inisiatif.

Mereka bersepakat menunjuk seorang penengah kepada siapa pun yang pertama kali masuk ke Baitullah keesokan pagi. Semua orang gembira ketika mendapati orang itu adalah Muhammad al-Amin. Abdullah bin Jahsy termasuk yang menyaksikan kebijaksanaan Muhammad muda.

Al-Amin membentangkan kainnya dan meminta setiap kepala kabilah memegang tepi kain tersebut. Lantas, Hajar al-Aswad ditaruhnya di atas bentangan kain. Dengan demikian, setiap kabilah merasa terwakili karena sama- sama membawa batu mulia itu ke Ka’bah. Akhirnya, Muhammad meletak kan Hajar al-Aswad kembali pada dinding Ka’bah.

Sejak peristiwa tersebut, Abdullah bin Jahsy semakin terinspirasi oleh Muhammad. Suatu kali, Abdullah bin Jahsy tidak mendapati Muhammad di lokasi biasa para sahabat bertemu. Abdullah kemudian menyambangi rumah Muhammad dan mengetuk pintunya.

Istri Muhammad, Khadijah, memberi tahu Abdullah bahwa suaminya sedang berada di Gua Hira dalam jangka waktu cukup lama untuk menenangkan diri (berkhalwat). Abdullah pulang dengan menanggung kekecewaan karena pada hari itu tidak bisa berjumpa dengan Muhammad. Yang belum diketahuinya, Muhammad sudah mendapatkan wahyu pertama dari Allah SWT. Sejak saat itu, Muhammad menjadi rasul dan nabi bagi sekalian alam.

Dakwah yang dijalankan Nabi Muham mad, pertama-tama secara sembunyi-sembunyi. Hanya orang-orang terdekat atau satu rumah yang menyatakan diri beriman. Sampai suatu ketika, turunnya surah asy-Syu’ara ayat 214 yang menandakan bahwa Allah telah memerintahkan Nabi Muhammad berdakwah secara terang- terangan.

Abdullah bin Jahsy mengajak dua saudara perempuannya untuk masuk Islam. Gagasan ini disetujui seisi rumah. Bahkan, Abdullah bin Jahsy membuat sebuah ruangan khusus di rumahnya untuk tempat beribadah dan mempelajari Alquran.

Kepahlawanan

Kepahlawanan Abdullah bin Jahsy mengemuka di medan Perang Uhud. Sebelum itu dimulai, Abdullah bin Jahsy mengajak sahabatnya, Sa’ad bin Abi Waqqash, berdoa secara bergantian. Sementara yang satu berdoa, yang lain mengaminkan. Sa’ad mendapatkan giliran pertama.

Doa Abdullah bin Jahsy ternyata lebih cepat terwujud diban dingkan doa Sa’ad. Inilah yang terbukti seusai Perang Uhud. Abdullah bin Jahsy menemui ajalnya dalam kondisi wajah yang hancur. Hidung dan daun telinganya dipotong musuh. Badannya juga tercincang, begitu mengenaskan. Kondisi yang sama juga dialami paman Nabi Muhammad, Hamzah bin Abdul Muththalib.

Melihat jasad Abdullah bin Jahsy, Sa’ad bergumam, Doa Ibnu Jahsy ternyata lebih mulia daripada doaku.

Sumber: Republika; Khazanah 27 Juni 2018

About Kukuh

Check Also

Inilah 6 Penjajah Wanita di Era Modern

Inilah 6 Penjajah Wanita di Era Modern Wanita dijajah pria sejak dulu Dijadikan perhiasan sangkar …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *