Home / Kajian / Pria yang Bisa Dijadikan Sebagai Menantu

Pria yang Bisa Dijadikan Sebagai Menantu

 

Pria yang Bisa Dijadikan Sebagai Menantu

Di dalam surah al-Qashas ayat 21-29, ada kisah bagaimana Nabi Musa bertemu jodohnya. Dalam ayat itu Nabi Musa tidak memilih sendiri jodohnya apalagi dijodohkan sebagaimana menimpa sebagian perempuan Indonesia. Jodoh Nabi Musa datang sendiri. Yang ditakdirkan menjadi bapak mertuanya adalah Nabi Syuaib. Orang tua tak perlu malu mencarikan putrinya jodoh terbaik, sesuai kisah Nabi Musa saat berada di negeri Madyan.

Mengapa Nabi Syuaib mengambil Nabi Musa sebagai menantu? Prof Quraish Shihab dalam kajian tafsir al-Misbah, berpendapat Nabi Musa adalah sosok kuat dan Terpercaya. Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya“. (al-Qashas 26)

Dari mana putri Nabi Syuaib tahu bahwa Nabi Musa itu kuat dan terpercaya? Nabi Musa sosok kuat, ia mampu membantu putri Nabi Syuaib saat kesulitan mengambil air minum bagi hewan ternaknya. Nabi Musa bisa dipercaya saat ia dalam perjalanan menuju ke rumah Nabi Syuaib, Ia tidak berbuat genit, asusila dan cabul kepada putri Nabi Syuaib.

Ingat Musa dalam perjalanan itu, meminta berjalan di depan daripada harus di belakang putri Nabi Syuaib yang bertindak sebagai penunjuk jalan. Ini bukti Nabi Musa masih menjaga Muru’ah putri Nabi Syuaib. Terpercaya adalah syarat setelah aspek “kuat”, bagaimana mungkin orang tua menyerahkan putrinya kepada orang tak terpercaya? Nanti bisa celaka di dunia dan akhirat.

Bukan ketampanan, justru ciri-ciri pria yang memenuhi syarat diambil menantu adalah seperti Nabi Musa di atas. Seorang Kepala daerah maupun Presiden pun harus kuat dan terpercaya agar ia bisa memimpin kaumnya. Seorang suami harus kuat mental serta fisik agar bisa melindungi dan memenuhi kebutuhan keluarganya. Berkatalah dia (Syuaib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik” (al-Qashas: 27).

Perlu diketahui, Nabi Musa tidak punya pekerjaan tetap apalagi kemapanan, namun Nabi Syuaib jatuh hati kepadanya. Diberilah ia amanah berupa pekerjaan, yang pekerjaan selama 8 tahun itu dianggap Nabi Syuaib sebagai maharnya Nabi Musa. Prof Quraish mengingatkan, ini wujud terkabulnya doa Nabi Musa, doa dapat keselamatan, pekerjaan, istri dan perlindungan dari kejaran tentara Firaun. Inilah doanya Nabi Musa:

“Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”. “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar” (al-Qashas: 21-22).

Sedikit tentang Mahar, yang mana persoalan mahar ini menjadi salah kaprah di Indonesia. “Mahar itu adalah sesuatu yang bermanfaat, bisa dalam bentuk pekerjaan” kata Prof Quraish Shihab. Mahar itu hak perempuan, bukan hak orang tuanya. Di Indonesia salah kaprah, mahar perempuan kadang disangkut pautkan dengan orang tuanya. Bahkan sebelum mahar, calon menantu atas nama adat atau tradisi nenek moyang harus menyerahkan hantaran.

Masih kata Prof Quraish, “Mahar itu bukan harga perempuan, mahar itu lambang kesediaan untuk hidup bersama untuk memenuhi kebutuhan pasangan”. Tidak harus berupa emas Antam 1 Kg, mobil Alphard  apalagi Tanah 10 hektar. Bisa hafalan al-Quran seperti yang dipraktikkan menantu Dai kondang AA Gym. Wallahu’alam.

Sumber: Dakwatuna.com; 21 Juni 2016

About Kukuh

Check Also

Kecerdasan Sensori Anak Dipengaruhi Kedekatan Ortu

Kecerdasan Sensori Anak Dipengaruhi Kedekatan Ortu   Di era serba digital, banyak orang tua mencari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *