Home / Kajian / Meneladani Keteguhan Prinsip Hafshah binti Umar

Meneladani Keteguhan Prinsip Hafshah binti Umar

Meneladani Keteguhan Prinsip Hafshah binti Umar

Sebuah ritme perjalanan seorang mujahidah Hafshah Binti Umar yang layak menjadi contoh untuk para muslimah di era yang mulai mengikis malu dan iman. Setiap wanita memiliki keistimewaan masing-masing, maka jagalah mutiara diri dengan sebaik-baik penjagaan dari api neraka. Begitupun dengan Hafshah putri Umar Bin Khottob dengan berbagai kebaikan akhlaq dan penjagaan dirinya.

Hafshah yang dilahirkan pada saat orang Quraisy membangun Ka’bah, lima tahun sebelum Nabi Muhammad diutus menjadi Rasul. Pada awal lahirnya Hafshah, Umar Bin Khattab risau akan adanya malapetaka dan aib bagi seorang ayah yang mempunyai anak perempuan pada masa itu. Namun ketika islam datang dan merubah pandangan Umar, semua itu berubah menjadi limpahan nikmat dan anugerah terindah bagi Umar.

Dia lah Hafshah Binti Umar, yang mewarisi sifat ayahnya. Dia berbeda dengan wanita lain, kepribadiannya kuat, ucapannya tegas dan keteguhan diri yang luar biasa dalam memegang prinsip hidup. Bahkan Aisyah menggambarkan bahwa sifat Hafshah sama seperti sifat ayahnya Khalifah Umar Bin Khattab. Kepandaiannya dalam membaca dan menulis, membuatnya seperti sebuah permata pada masa itu, ketika kemampuan tersebut belum lazim dimiliki oleh kaum perempuan.

Maka jadilah seperti Hafshah, yang mengasah kemampuan diri untuk kemaslahatan dan menebar manfaat, yang mampu membentengi diri dengan keimanan dan malu yang besar. Bahkan soal menikah pun ia mengedepankan ketaqwaan dan keimanan serta kesatu fikrohan, yang darinya muncul kesinergian dalam hubungan rumah tangga syurga. Bahwa hidup adalah untuk berjuang bukan sekedar ucapan cinta pada paras atau harta gemilang emas, ketika yang meminang Hafshah adalah seorang mujahid perang, Khunais bin Hudzafah.

Jadilah setabah Hafshah Binti Umar, tatkala ujian dan cobaan menimpa, ketika Rabb Izzati menjadikannya janda dengan gugurnya Khunais di medan perang. Dan lihatlah bagaimana ketika ia lulus dengan predikat sabar atas ujian dan cobaan ada sebuah keindahan dan keberkahan yang menghampirinya. Rosululloh datang meminangnya.

Dan jadilah sekuat Hafshah Binti Umar, yang cobaannya tak hanya bersifat sakit tapi juga penuh kesabaran dalam bersosialisasi dengan lingkungan. Ketika seorang hamba yang di rundung duka kesedihan, jangan lupa bahwa hidup akan terus berlanjut, maka ikhtiarlah sekuat ikhtiarmu hingga predikat sabar itu berhasil engkau capai. Dan menjadi wanita syurga.

Teladanilah Hafshah Binti Umar, yang mendapat kepercayaan untuk menjaga mushaf Al Quran untuk kali pertamanya, tidaklah mudah menitipkan sebuah kepercayaan. Tetapi Hafshah- lah yang dipercaya diantara Ummahatul Mukminin termasuk Aisyah didalamnya.

Tegarlah seperti Hafshah Binti Umar, yang bahkan tatkala sang ayah tau bahwa putrinya di liputi kesusahan dan kesedihan ia tapi tetap tegar, menutupinya dengan amal ibadah dan tetap berada dalam lingkaran prinsip yang kokoh oleh Al Quran, yang dibentengi rasa malu, dan terjaga oleh tunduk patuh pada Rabbul Izzati.

Sumber: Dakwatuna.com,  27 Desember 2016

About Kukuh

Check Also

Kecerdasan Sensori Anak Dipengaruhi Kedekatan Ortu

Kecerdasan Sensori Anak Dipengaruhi Kedekatan Ortu   Di era serba digital, banyak orang tua mencari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *