Home / Kajian / Jas Bertambal; Mohammad Natsir, Mencintai Indonesia, Dicintai Negeri Asing

Jas Bertambal; Mohammad Natsir, Mencintai Indonesia, Dicintai Negeri Asing

Jas Bertambal; Mohammad Natsir, Mencintai Indonesia, Dicintai Negeri Asing

Berikut sebuah percakapan George McTurnan Kahin yakni seorang sejarawan asal Amerika dan H. Agus Salim tentang sosok Mohammad Natsir.

Saya hadir pada hari itu kebetulan bertemu dengan bapak Agus Salim, diplomat ulung dari Indonesia. Kehadirannya pada waktu itu di hadapan saya kabarnya membawa sebuah berita menarik tentang seorang staff kenegaraan di kementerian penerangan Indonesia pada waktu itu. Agus Salim hanya tersenyum-senyum saja, membayangkan sesuatu lucu saya kira, perilaku aneh itu membuat saya heran, ditambah lagi saya memang hidup di barat, dimana orang yang tersenyum-senyum sendiri sebelas-duabelas dengan orang sakit ingatan.

“Apa yang anda tertawakan bapak? Apakah cerita yang anda bawa dari negeri anda ini sungguh demikian lucu?” Tanya saya heran, bagaimanapun saya seorang akademisi yang logis dan berpikiran maju.

“Ah tidak saudara, saya hanya tidak percaya masih saja ada orang seperti itu di zaman ini” jawab Agus Salim, lebih seperti heran dan tidak percaya, namun dia meneruskan ucapannya.

“Bapak George Kahin punya berapa setelan jas di rumah? Diganti berapa hari sekali?” Tanya diplomat lucu ini kepada saya, insiden “kambing silahkan makan rumput di luar” langsung terngiang di kepala saya.

“Cukup banyak Pak Agus, bisa lah sehari sekali ganti jas..” jawab saya setengah bercanda setengah serius. Ada apa gerangan diplomat ulung Indonesia ini bertanya seperti itu kepada seorang akademisi tulen seperti saya.

“Tahukah kamu, di negeri saya, ada seorang menteri, menteri Negara sekaligus pemimpin partai politik besar di Indonesia. Dia hanya memiliki 2 (dua) setel kemeja lawas dan jas yang ditambal sebagai pakaian kenegaraannya. Dia tidak pernah mengambil sedikitpun dari fasilitas Negara untuk menteri, sumbangkan semua itu kepada rakyat dan pegawai-nya. Mobil nya, bukan mobil dinas Negara, di tolak itu semua dan dia memilih memakai mobil lawas De Soto yang tidak jelas merek apa itu. Percaya atau tidak, dia adalah salah satu pendiri Republik Indonesia” Pak Agus Salim bercerita panjang lebar, menceritakan sebuah kisah dari negeri dongeng. Tidak mungkin di dunia kejam ini masih ada orang mulia seperti itu.

“Ah, bercanda anda keterlaluan Pak Agus, tidak ada orang seperti itu di dunia ini” saya masih tidak percaya, masih yakin dengan keangkuhan barat saya, yang senantiasa yakin bangsa barat adalah bangsa agung dan mulia.

“Bapak George Kahin tau dengan Rabithah ‘Alam Islami dan Liga Muslim Sedunia?” Tanya Pak Agus Salim serius. Saya tahu tentu saja, organisasi sebesar itu tidak mungkin akademisi sedunia tidak tahu.

“Tahulah saya bapak, tetapi ada apakah dengan kedua lembaga itu? Bukankah salah satu lembaga tersebut diketuai oleh seorang Indonesia?” jawab saya. Dalam pikiran saya, orang hebat dan kaya raya lah yang berhak berdiri mewakili umat muslim sedunia, dan saya sangat yakin orang Indonesia yang satu ini pasti cukup kaya di Negara nya.

“Bapak tahu kah nama ketua-nya? Dia orang Indonesia bapak tahu” Tanya Pak Agus Salim semakin serius. Ya betul saya tahu bahkan beberapa Koran yang saya baca pernah memuat berita tentang orang hebat satu ini. Disebut Lawrance of Arabia sebagai salah satu muslim Indonesia paling berpengaruh di kancah politik internasional, memperoleh penghargaan tertinggi dari Pemerintah Tunisia karena aksi mendukung kemerdekaan daerah Afrika Utara. Tidak mungkin orang hebat seperti saya tidak kenal dengan orang itu.

“Tentulah saya tahu, orang tenar semacam ketua Liga Muslim Sedunia masak saya tidak tahu. Beliau adalah Pak Mohammad Natsir bukan? Hebat betul orang itu, saya yakin di Indonesia dia memiliki harta yang melimpah atau mungkin memiliki pengikut banyak dan hidup yang makmur” dengan yakin saya menjawab apa yang saya tahu tentang Mohammad Natsir. Sorot mata beliau yang tajam dan struktur wajah tegas, namun raut muka-nya lembut dan menyejukkan. Wajar sajalah saya berpikir demikian, ditambah lagi dengan posisi dan penghargaan yang dia miliki, tidak mungkin dia termasuk orang miskin.

Saya terkejut ketika saya melihat ekspresi wajah Bapak Agus Salim. Terlihat beliau seperti menahan tawa, dan dari raut mukanya seolah dia berkata “Ah, bung ini memang tidak tahu apa-apa”. Saya sedikit kesal melihat raut muka beliau, dan ingin segera menyerocos memarahi diplomat ulung tidak tahu diri ini. Namun, saat melihat air muka saya berubah, beliau segera mengangkat tangan, meminta waktu untuk berbicara.

“Bapak George Kahin, saya tidak menyalahkan jika anda berpendapat demikian, karena memang berita senantiasa memberitakan orang hebat ini. Tapi tahukah anda, orang yang hanya punya dua setel kemeja lawas dan jas bertambal, serta mobil tidak jelas itu, adalah bapak Mohammad Natsir yang anda sebut kaya raya dan terkenal itu” Jawab Agus Salim. Tidak ada sorot mata jenaka atau bahkan mimik menahan tawa dalam perkataan terakhir diplomat hebat ini. Bahkan cenderung menerawang, seolah melihat sesuatu yang jauh di Asia Tenggara, sebuah Negara baru yang mampu menggebrak kekuatan lawas dunia.

Saya hanya terdiam dan menutup mulut saya rapat-rapat. Di dalam ruangan ini, saya memutuskan untuk mengingat sosok hebat dalam sejarah bangsa Indonesia. Sosok hebat yang bahkan tidak mampu untuk membeli jas baru, karena memilih tidak menggunakan fasilitas Negara yang diberikan kepada beliau. Saya kira hanya Mohammad Hatta dan Agus Salim yang besar dan hebat karena kesederhanaan, namun, ada juga orang hebat lain di Indonesia, yang cinta Negara-nya, cinta bangsa-nya dengan totalitas. Beliau adalah bapak Mohammad Natsir.

Sumber: dakwatuna.com, 11 November 2016

About Kukuh

Check Also

Cucu Rasulullah SAW Ini Pendiri Paskibraka dan Penyelamat Merah Putih (Bagian-1)

Cucu Rasulullah SAW Ini Pendiri Paskibraka dan Penyelamat Merah Putih (Bagian-1) Perayaan Hari Kemerdekaan, di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *