Home / Kajian / Ummul Mukminin Hafshah binti Umar bin al-Khattab (Bagian-1)

Ummul Mukminin Hafshah binti Umar bin al-Khattab (Bagian-1)

Ummul Mukminin Hafshah binti Umar bin al-Khattab (Bagian-1)

Hafshah binti Umar bin al-Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Adi bin Ka’ab bin Luay radhiallahu ‘anha. Ia dilahirkan pada 18 tahun sebelum hijrah dan wafat pada 45 H. Bersamaan dengan 604-665 M. Ibunya adalah Zainab binti Mazh’un bin Hubaib bin Wahb.

Hafshah lahir saat orang-orang Quraisy membangun Baitullah. Dan ia merupakan anak sulung dari Umar bin al-Khattab. Artinya, ia lebih tua dari Abdullah bin Umar. Hafshah lahir delapan belas tahun sebelum hijrah (al-Mubarakfury: ar-Rahiq al-Makhtum, Hal 70-71).

Kisah Pernikahan

Sebelum menikah dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hafshah bersuamikan seorang laki-laki yang bernama Khunais bin Hudzafah as-Sahmi. Keduanya memeluk Islam bersama. Kemudian Khunais hijrah ke Habasyah pada hijrah yang pertama. Saat itu, jumlah sahabat yang hijrah terdiri dari dua belas orang laki-laki dan empat orang perempuan. Mereka dipimpin oleh Utsman bin Affan yang membawa istrinya, Ruqayyah putri Rasulullah. Kemudian Khunais dan istrinya Hafshah berhijrah pula ke Madinah. Ia turut dalam pasukan Badar. Dan wafat karena luka yang ia derita di perang pertama itu (Burhanudin al-Halabi: as-Sirah al-Halabiyah, 3/314).

Setelah suaminya wafat, ayahnya, Umar bin al-Khattab, iba dengan keadaannya. Ia berusaha mencarikan untuk putrinya ini seorang suami yang shaleh. Yang cocok untuknya. Umar berkata, “Aku menjumpai Utsman, aku tanyakan padanya apakah tertarik dengan Hafshah. Kukatakan padanya, ‘Jika kau mau, aku akan menikahkanmu dengan Hafshah binti Umar’. Utsman menjawab, ‘Aku pikir terlebih dulu’. Kutunggu beberapa malam, ia pun menjumpaiku. Ia berkata, ‘Aku telah berkesimpulan bahwa aku tak berminat untuk menikah dalam waktu-waktu ini’. Kemudian aku menjumpai Abu Bakar. Kukatakan padanya, ‘Jika kau mau, kunikahkan engkau dengan Hafshah binti Umar’. Abu Bakar terdiam, ia tak memberikan jawaban apapun padaku. Aku meyakini ia juga mengambil sikap seperti Utsman. Kemudian kulewati beberapa malam, ternyata Rasulullah melamar putriku. Kunikahkan putriku dengan beliau.

Setelah itu kutemui Abu Bakar, ia berkata, ‘Mungkin kau kecewa padaku saat mengajukan Hafshah. Aku tak memberikan jawaban apapun padamu’. Kujawab, ‘Iya’. Abu Bakar melanjutkan, ‘Tidak ada yang menghalangiku untuk menanggapi tawaranmu melainkan aku tahu bahwa Rasulullah telah menyebut Hafshah. Aku tak ingin menyebarkan rahasia Rasulullah. Seandainya beliau tidak jadi, aku yang akan meminangnya’.” (ash-Shalihi asy-Syami: Subul al-Huda wa ar-Rasyad, 11/184).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Hafshah pada bulan Sya’ban. Ada yang menyebutkan Rasulullah menikahinya pada tahun ke-3 H (Ibnu Saad: Ath-Thabaqat al-Qubra, 7/81).

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata kepada Umar, “Aku segan terhadapmu.” Umar berkata, “Tanyalah apa yang kau inginkan. Sesungguhnya kita takan pernah mengetahui sesuatu sampai kita mempelajarinya.” Aku (Ibnu Abbas) bertanya, “Beritahulah aku tentang firman Allah:

“Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi.” [Quran At-Tahrim: 4].

Siapa dua orang yang dimaksud ayat ini?”

Umar menjawab, “Engkau tidak akan bertanya dengan seorang pun yang lebih mengetahui tentang hal itu melebihi aku. Dulu, ketika di Mekah kami tidak berbicara dengan istri-istri kami (tidak mengajak mereka berunding). Mereka hanya membantu di rumah. Saat suami membutuhkan mereka, dia tahan istrinya dan menunaikan keperluannya. Saat di Madinah, kami belajar dari kaum Anshar. Kami ajak mereka berdisikusi dengan kami. Dan mereka memberi masukan kepada kami. Sungguh aku memerintahkan budakku untuk suatu keperluan. Istriku mengatakan, ‘Lakukanlah demikian dan demikian’. Aku berdiri dan memukul dengan tongkatku. Istriku berkata, ‘Betapa mengherankannya engkau ini hai putra al-Khattab, engkau ingin agar kami tak berbicara. Padahal Rasulullah, istri-istrinya berbicara pada beliau’.

Aku (Umar) keluar menemui Hafshah. Kukatakan, ‘Hai putriku, perhatikanlah. Janganlah kau berbicara kepada Rasulullah mengeluhkan sesuatu. Jangan kau menuntut kepadanya. Sesungguhnya Rasulullah tidak memiliki dinar dan dirham yang bisa beliau berikan kepada kalian. Jika kau ada kebutuhan sampai kau melumuri kepalamu, mintalah padaku… (Riwayat ath-Thabarani dalam al-Ausath, 8764).

Sumber: Kisah Muslim, 16 Agustus 2018

About Kukuh

Check Also

Hikmah Berkuda, dari Obat Autis sampai Strok

Hikmah Berkuda, dari Obat Autis sampai Strok Allah SWT menegaskan dalam Alquran Surat Al-Anfal (8) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *