Home / Kajian / Ummul Mukminin Hafshah binti Umar bin al-Khattab (Bagian-2)

Ummul Mukminin Hafshah binti Umar bin al-Khattab (Bagian-2)

Ummul Mukminin Hafshah binti Umar bin al-Khattab (Bagian-2)

Pertama: Kecemburannya pada Mariah al-Qibtiyah radhiallahu ‘anha

Ath-Thabari berkata, “Para ulama berbeda pendapat tentang sesuatu yang Allah halalkan kepada Rasul-Nya. Kemudian beliau haramkan untuk dirinya karena berharap keridhaan istri-istrinya. Sebagian ulama berpendapat, yang dihalalkan Allah itu adalah Mariya. Seorang budak perempuan dari Mesir. Kemudian Nabi bersumpah mengharamkannya untuk dirinya. Dan tidak akan mendekatinya. Hal itu beliau lakukan agar istri beliau, Hafshah, ridha. Karena ia cemburu Rasulullah bersamanya di hari gilirannya dan di rumahnya (Ibnu Jarir ath-Thabari: Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Alquran, 23/475).

Kedua: Kecemburannya pada Ummul Mukminin Shafiyah radhiallahu ‘anha.

Dari Anas, ia berkata, “Sampai kabar kepada Shafiyah bahwa Hafsha berkata bahwa Shafiyah putri seorang Yahudi. Rasulullah menemui Shafiyah dan melihatnya sedang menangis. Beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu menangis?’ Shafiyah menjawab, ‘Hafshah berkata padaku bahwa aku putri seorang Yahudi’. Nabi berkata, ‘Sesungguhnya engkau adalah putri seorang nabi. Pamanmu juga nabi. Dan suamimu juga nabi. Apa lagi yang bisa membuatmu bangga (kalau ini saja tidak pen.)?’ Kemudian beliau berkata kepada Hafshah, ‘Bertakwalah engkau wahai Hafshah’.” (HR. at-Turmudzi 3894).

Shafiyah adalah putri dari Huyai bin Akhtab. Seorang Yahudi bani Nadhir. Nasabnya sampai kepada Nabi Harun. Karena itu, Rasulullah sebut ia sebagai putri nabi. Sedangkan Nabi Harun bersaudara dengan Nabi Musa. Karena itu, Rasulullah sebut pamannya pun nabi.

Ketiga: Kecemburuannya pada Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak keluar bersafar, beliau mengundi di antara istrinya (siapa yang menemaninya). Keluarlah nama Aisyah dan Hafshah. Dan kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila bersafar malam dengan Aisyah, beliau ngobrol. Hafshah berkata, “Maukah engkau mengendarai tungganganku dan aku mengendarai milikmu. Aku melihat dan kau juga lihat?” Aisyah menjawab, “Boleh.”

Hafshah menunggangi milik Aisyah kemudian Nabi mendekati onta Aisyah, yang di atasnya adalah Hafshah. Nabi mengucapkan salam padanya. Kemudian keduanya berjalan sampai tiba di tempat persinggahan. Aisyah mencari Nabi. Ketika orang-orang berhenti, Aisyah meletakkan kakinya di antara rumput idkhir (tumbuhan yang memiliki bau tak sedap. Tempat tinggal binatang kecil pengganggu).

Aisyah berkata, “Rabbku, jagalah aku dari (sengatan) kalajengking atau gigitan ular berbiasa. Aku tak mampu berkata sesuatu apapu padanya.” (Riwayat al-Bukhari dalam Kitab an-Nikah 4913 dan Muslim dalam Kitab Fadhail ash-Shahabah 6451).

Keempat: Kecemburuan istri-istri nabi yang lain terhadap Hafshah.

Ummul mukminin Aisyah radhiallahu ‘anh berkata, “Rasulullah suka dengan manisan dan madu. Kalau sudah memnunaikan shalat ashar, beliau mengunjungi istri-istrinya dan singgah di salah seorang di antara mereka. Saat menemui Hafshah, Rasulullah singgah lebih lama. Aku pun menanyakan hal ini.

Ada yang mengatakan padaku, ‘Seorang wanita dari keluarga Hafshah memberinya sewadah madu. Kemudian ia menjamu nabi dengan madu itu’. Aisyah berkata, ‘Demi Allah, kami akan meminta sesuatu pada beliau tentang hal ini’.

Aku (Aisyah) berkata pada Saudah binti Zam’ah, ‘Nanti Rasulullah akan menghampirimu. Jika beliau datang, katakan padanya, ‘Anda memakan maghafir (Makanan yang lengket. Rasanya manis terbuat dari pohon urfuth. Namun aromanya tak sedap)? Nanti beliau akan menjawab, ‘Tidak’. Katakan padanya, ‘Lalu bau apa yang kucium ini?’ Beliau akan mengatakan, ‘Hafshah memberiku madu’. Jawab lagi, ‘Madu yang telah basi’. Aku juga akan mengatakan yang demikian. Hai Shafiyah, katakan juga demikian pada beliau.

Kemudian Saudah berkata, ‘Demi Allah, beliau hanya akan berdiri di depan pintuku. Dan aku akan menyampaikan apa yang kau usulkan setelah berpisah darimu’. Ketika Rasulullah datang, Saudah berkata, ‘Hai Rasulullah, apakan Anda memakan maghafir?’ Beliau menjawab, ‘Tidak’. ‘Lalu aroma apa yang kucium ini?’ Lanjut Saudah. Beliau menjawab, ‘Hafshah memberiku minuman madu’. Saudah menanggapi, ‘Madu yang telah basi’.

Ketika beliau menghampiriku (Aisyah), kukatakan juga demikian. Dan ketika beliau bertemu dengan Shafiyah, ia juga mengatakan seperti itu. Saat beliau kembali melewati Hafshah, Hafshah berkata, ‘Rasulullah, maukah kuberi madu lagi?’ Beliau menjawab, ‘Aku tidak menginginkannya’. Saudah berkata, ‘Demi Allah, kita telah menghalanginya untuk beliau’. Aisyah berkata, ‘Diamlah’.” (Ibnu Katsir: Tafsir al-Quran al-Azhim 8/161. al-Bukhari dalam Kitab ath-Thalaq 4967. dan Muslim dalam Kitab ath-Thalaq 4967).

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengisahkan, “Rasulullah pernah bersama salah seorang istrinya. Kemudian salah seorang istri beliau mengirimkan semangkok makanan. Saat itu, di hadapan beliau, istrinya ini memukul tangan pembantu yang membawa makanan tersebut. Jatuhlah makanan. Mangkok pun pecah berserakan. Nabi memunguti pecahan mangkok itu dan mengambili makanan yang terjatuh. Beliau bersabda, ‘Ibu kalian sedang cemburu’. Beliau meminta agar si pembantu menunggu untuk beliau carikan di rumahnya gantinya. Lalu diserahkanlah mangkok yang baru sebagai ganti mangkok pecah itu. Mangkok yang pecah dibiarkan berada di rumah istri yang memecahkannya.”

Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa yang mengirim makanan adalah Hafshah dan yang memecahkan mangkok adalah Aisyah. Inilah keadaan rumah tangga Rasulullah. Rumah tangga yang humanis dan manusiawi. Bukan rumah tangga yang tak bermasalah. Sehingga umat beliau kebingungan mencari teladan dalam kehidupan berumah tangga. Allah Ta’ala takdirkan rasa cemburu dan riak dalam rumah tangga sang nabi sebagai rahmat untuk kita.

Allah tahu rumah tangga umat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan ada konflik dan cek-cok, sehingga mereka bisa meneladani Rasulullah dalam menghadapi istri-istrinya. Ada sikap sabar. Ada sikap tegas. Ada sikap mengayomi. Ada romantisme. Dan lain-lain. Karena itu, tidak layak sama sekali kita mencela istri-istri beliau karena masalah ini. Ini adalah rahmat dan teladan untuk kita. Dan istri-istri beliau adalah istri-istri beliau pula di surga.

Nabi Sempat Mencerai (Talaq) Hafshah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah men-talak satu Hafshah radhiallahu ‘anha. Saat Umar -ayah Hafshah- mengetahui kabar ini, ia lumuri kepalanya dengan debu. Umar berkata, “Pada hari ini, Allah tak menghiraukan Umar dan putrinya.”

Dari Qays bin Yazid, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah men-talak Hafshah binti Umar dengan talak satu. Salah seorang pamannya dan Utsman bin Mazh’un menemuinya. Hafshah menangis dan berkata, ‘Demi Allah, tidaklah beliau menceraiku karena suatu aib’. Kemudian Nabi datang dan bersabda, ‘Jibril menyampaikan kepadaku, ‘Rujuklah Hafshah. Karena dia adalah seorang wanita yang rajin berpuasa dan shalat. Dan dia adalah istrimu di surga’.” (al-Bushiri: Ithaf al-Khirah al-Mahrah bi Zawa-id al-Masanid al-‘Asyrah 7/251).

Kisah Rasulullah men-talak Hafshah ini juga mengandung pelajaran bahwa seorang wanita yang ditalak satu oleh suaminya, bisa dirujuk kembali. Dan sikap yang benar bagi seorang perempuan yang untuk pertama kali ditalak suaminya -suaminya shaleh dan paham agama- adalah introspeksi diri. Berdiam di rumah. agama.

Sumber: Kisah Muslim, 16 Agustus 2018

About Kukuh

Check Also

Hikmah Berkuda, dari Obat Autis sampai Strok

Hikmah Berkuda, dari Obat Autis sampai Strok Allah SWT menegaskan dalam Alquran Surat Al-Anfal (8) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *