Home / Kajian / Adab Dan Iman

Adab Dan Iman

Adab Dan Iman

Ketika kalimat adab disebut, yang terlintas dalam kebanyakan benak kita adalah kesopanan, etika atau akhlak. Sejumlah buku menerjemahkan adab dengan kesopanan. Singkatnya, kebanyakan memahami adab sebagai tindak-tanduk atau perilaku yang baik.

Jika ditelaah, adab memiliki kedudukan sangat istimewa, penting dan strategis dalam agama Islam. Ia bukan sekedar perilaku dzahir (a’malul jawarih), tetapi juga aktivitas jiwa dan akal. Ketika membincangkan problema terbesar umat Islam di zaman modern, Prof. Syed Naquib al-Attas misalnya, menunjuk pada kalimat the loss of adab. Krisis yang dialami umat Islam sangat kompleks dan beragam, tetapi beliau menyebut akarnya ada di loss of adab.

Bahkan, beberapa kalam para ulama terdahulu menunjukkan sikap mendahulukan adab daripada ilmu. Di antara sedikit beberapa contohnya adalah; Abdurrahman bin al-Qosim (ahli fikih madzhab Maliki dari Mesir yang disebut-sebut murid utama bahkan pewaris ilmu fikih Imam Malik) mengatakan: “Aku berkhidmat kepada imam Malik radhiallahu ‘anhu selama dua puluh tahun. Selama itu, dua tahun aku belajar ilmu, dan delapan belas tahun belajar adab. Seandainya aku jadikan semua rentang waktu tersebut untuk belajar adab”.

Sebagian ulama menasihati anaknya: “Wahai anakku, belajar satu bab adab itu sesungguhnya lebih aku sukai daripada kamu belajar tujuh puluh bab ilmu”. Imam Malik pernah menasihati imam Syafi’i radhiallahu ‘anhuma: “Wahai Muhammad (Muhammad bin Idris As-Syafii), jadikanlah ilmu kamu sebagai garam dan adab mu sebagai tepung”.

Karena itu, kemungkinan para ulama menulis bab-bab tentang adab yang ditujukan oleh para penuntut ilmu, pelajar, dan al-murid (penganut jalan tariqah sufiyah) dengan landasan pemikiran pentingnya adab dalam agama. Misalnya, ada kitab yang sangat masyhur “Ta’lim al-Muta’allim Thoriq al-Ta’lim” karya imam al-Zarnuji. Imam al-Bukhari menulis suatu kumpulan hadis bernama “Adabul Mufrad”.

Ibnu Muqaffa’ menulis kitab “al-Adab as-Shaghir” dan “al-Adab al-Kabir”, yang disebut Rosailu al-Bulagho’. Imam al-Ghazali memiliki risalah kecil berjudul “Kitabul Adab” yang dimasukkan dalam kitab beliau “Roudhotut Thoalibin wa ‘Umdatus Salikin”.

 

Ibnul Jama’ah memiliki karya “Tadzkirotu as-Sami’ wa al-Mutakallim fi Adabi al’Alim wa al-Muta’allim”. Dan dari Nusantara KH. Hasyim Asy’ari menulis kitab yang judulnya mirip dengan judul kitab Ibnul Jama’ah. Judul kitab adabMbah Hasyim adalah “Adabul ‘Alim wal Muta’allim”.

Lalu apa pentingnya adab, sehingga para ulama salaf dahulu menaruh perhatian terhadap adab ini? Untuk memahami ini, kita mulai dari kisah sahabat yang ditulis dalam hadis Imam Muslim, berikut ini.

Suatu hari seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata, “Ya Rasulullah! Sungguh si fulanah itu terkenal banyak shalat, puasa, dan sedekahnya. Akan tetapi ia menyakiti tetangga-tetangga dengan mulutnya.”. Maka berkatalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sungguh ia termasuk ahli Neraka.”

Kemudian laki-laki itu berkata lagi, “Kalau Si Fulanah yang satu lagi terkenal sedikit shalat, puasa dan sedekahnya, akan tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sungguh ia termasuk ahli Surga.” (HR.Muslim).

Ada satu pelajaran penting dari hadis di atas. Banyaknya ibadah tetapi adabnya rusak tidak membawa manfaat apa pun. Amalnya tidak bisa menyelamatkan dirinya, karena jiwanya buruk. Sebaliknya, jiwa yang bersih meski amalnya sedikit bisa menyelamatkan dirinya.

Sumber: Hidayatullah, 19 Juli 2018

About Kukuh

Check Also

Umar Bin Khattab Tulis Surat untuk Sungai Nil

Umar Bin Khattab Tulis Surat untuk Sungai Nil Ada banyak kisah supranatural dalam sejarah generasi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *